Sinaran
Sejak fitrah ditetapkan atas batas surga dan dunia, palung rindu tercipta, ribuan tanya beriak, dan cakrawala adalah pasungan. Riuh rendah manusia hanyalah cakap satu tema yang coba dirunutkan oleh penyair dari zaman ke zaman. Ia menjelma jadi sinaran hikmah..yang berpendar sejenak dalam jenuh tawa dan pekat airmata
Warastuti
Name: Warastuti
From: Indonesia
About me: Koleris-melankolis Coffee and tempe lovers
More..


gorgeus_ika @ yahoo.com (YM)
Rekan-rekan
Ahmad Fikri - Kang Ipin - Agah - Aldi - Aly Imron - Amir Dessy - Mbak Amo - Andiw - Andreas Harsono - Andres - Andro - Anx - Mas Ari Perdana - Arifianto - Arif - Army - Awan - Bram - Beni - Mbak Didin - Dika - Dimsum - Donny - Catuy - Pa Egi - Anggiara - Fajar - aBy - Galih - Galuh - Ganda - Haldi - Hanum - Harry - Bang Hokky - Ikram - Komentator - Fathy - Intan - Intan "Inspirit"- Kuncoro - Listya - Lucky - Teh Wiwit - Echa - Miftah - Fadil - Helmi - Lupi - Yando - Mutiara Madinah - Pipit - Nofie Iman - Nova - Nurhadi Sukma - Paidjan - Agung - Dati - Mita - Ratih - Reni - Teh Rela - Kang Rezha - Anak-anak Riuh - Rivani - Kang Roby - Peppen - Sakyahara - Ales - Sebazz - Shilda - Shinta - Taufik - Te Tika - Trian - Ulfah - Ulya - Usman - Vetri - Wiyono - Yayo - Yentri - Yoyo - Kang Yugi - Yanuar Nugroho - Yustika - Yuti - Zaki - Zulkieflimansyah
Figur
  • Ahmadinejad
  • Ali Shariati
  • Bill Gates
  • Budi Rahardjo
  • Chick Corea
  • Daniel Phillips Henney
  • Debbie Sofie Retnoningrum
  • Denzel Washington
  • Evelyn Fox Keller
  • Enya
  • Fritjof Capra
  • George Soros
  • Hidayat Nurwahid
  • Hillary Clinton
  • Incognito
  • Jalaluddin Rumi
  • Jamiroquai
  • Jeffrey Sach
  • JK
  • Juwono Sudarsono
  • Lighthouse Family
  • Margaret Thatcher
  • Mario Teguh
  • Michael Jordan
  • Michael E.Porter
  • Muhammad Iqbal
  • Noam Chomsky
  • Oprah Winfrey
  • Presiden SBY
  • Stephen Hawking
  • Taufikurahman
  • Toto
  • Triharyo Indrawan Soesilo
  • Wolfgang Amadeus Mozart
  • Kaitan
  • AC Milan
  • Agribisnis Ganesha
  • Al Manhaj
  • American-Israel Patriot's Blog
  • Ashoka Foundation
  • Ayah Bunda
  • Baitur Rahmah
  • Body Shop
  • Braun Buffel
  • BusinessWeek
  • Cambridge University
  • Cerita Kita, Cerita DK
  • Dakwatuna
  • (Radio) Delta
  • DetikCom
  • Dompet Dhuafa
  • Entrepreneur
  • Eramuslim
  • Gerschwin "Rhapsody in Blue"
  • Getty Images
  • Grameen Bank
  • Halal Guide
  • Harvard University
  • INSIST
  • IKEA
  • ITB
  • Journalism
  • KM ITB
  • Kafe Salemba
  • Keane
  • Kedai Kopi
  • Kompas Cyber Media
  • Komunitas Tarbiyah London
  • Lebanon
  • Martha Stewart
  • MIT Open Course
  • Materi Tarbiyah
  • Milis Beasiswa
  • Moslem Blog
  • National Geographic
  • Net Sains
  • The New Republic
  • The New York Times
  • The Washington Post
  • Time Magazines
  • Tokyo University
  • Pabrik Bunyi
  • PKS Watchhh
  • PPSDMS
  • Republika
  • Rockport
  • Santa Fe Institute
  • Save Palestine!
  • SWA Online
  • Tanya-Jawab Seputar Islam
  • Tempo Interaktif
  • Voice of America
  • Wikipedia
  • Runutan
    • Torn Between Two Murders
    • Misteri Medis di Balik Prita
    • Cerita Pertemuan Penting
    • Hikayat Marta Kierkegaard
    • You Were There
    • Akal Bulus Citra
    • Padanya Mutiara
    • Curhatan Si Mimi
    • Ketakutan
    • Ada Mendung di Jalan Damai
    Sekat
    Aforisme - Buku - Cerita - Cultural Studies - Dialog Imajiner - Ekonomi - Fiksi - Filosofi - Gumam - Imaji - Jurnalisme - Kampusku - Kesehatan - Kontemplasi - Kuliah - Kutipan - Parenting - Pendidikan - Perempuan - Politik - Sajak - Sejarah - Sosial Budaya
    Yang Tersimpan
    • January 2005
    • April 2005
    • July 2005
    • August 2005
    • September 2005
    • October 2005
    • December 2005
    • January 2006
    • February 2006
    • March 2006
    • April 2006
    • May 2006
    • June 2006
    • July 2006
    • August 2006
    • September 2006
    • October 2006
    • November 2006
    • December 2006
    • January 2007
    • February 2007
    • March 2007
    • April 2007
    • May 2007
    • June 2007
    • July 2007
    • August 2007
    • September 2007
    • October 2007
    • November 2007
    • December 2007
    • January 2008
    • February 2008
    • March 2008
    • April 2008
    • May 2008
    • June 2008
    • July 2008
    • August 2008
    • September 2008
    • October 2008
    • November 2008
    • December 2008
    • January 2009
    • February 2009
    • March 2009
    • May 2009
    • June 2009
    Bertuturlah...
    Yang Baru Bicara
    Kaki
    Layout design by :Pannasmontata
    Modified by : [ Trian ]
    Powered by :

    Powered by Blogger

    Saturday, June 13, 2009,6:12 AM
    Torn Between Two Murders


    Dua biliuner Eropah tewas mengenaskan. Hingga kini bagi sebagian pihak, kisah tragis keduanya tetaplah misteri. Bankir kenamaan Prancis Edouard Stern ditemukan tewas tertembak di dalam kamar penthousenya di Jenewa, Swiss, 16 Maret 2005. Sementara enam tahun sebelumnya, 3 Desember 1999, Edmond Safra, tewas karena asfiksi di sebuah kamar darurat apartemen megah di Monaco. Kedua kasus ini menjadi bahan investigasi menarik bagi para jurnalis. Sebagian berpendapat kisah kematian keduanya mirip, bila tak dapat dikatakan saling terkait.

    Majalah bulanan Indonesia Tatler edisi No 11 Volume 6 November 2005 memuat tulisan investigatif Sue Russel mengenai kisah tragis dua bankir dunia. Di suatu siang, tiga rekan bisnis Stern, membuka pintu penthousenya, penuh tanda tanya. Pagi itu, tak seperti biasanya, Stern absen dalam dua pertemuan.

    Petugas pembersih ruangan Stern menyilakan mereka masuk. Berjalan setengah enggan, mereka menuju kamar tidur Stern. Stern tak ada di tempat tidur. Yang mereka temukan justru pemandangan aneh di lantai, tak jauh dari tempat tidur Stern. Selongsong lateks berwarna merah daging. Di dalamnya tergolek jasad Stern dengan genangan darah. Stern ditembak empat kali. Dua peluru bersarang di kepalanya. Sistem alarm dan kamera pengintai di rumahnya mati. Tak ada tanda-tanda pemaksaan masuk atau perlawanan. Tampaknya Stern kenal dekat sang pembunuh. Berbagai spekulasi terbit. Ada yang menduga pembunuhan direncanakan dan punya kaitan dengan Mafia Rusia. Ada pula yang menerka dia dibunuh oleh partner pribadinya, di tengah sebuah aktivitas seksual sadomasokistis. Stern memang diberitakan tewas dalam kondisi yang cukup komplikatif, telanjang bulat, terbungkus ‘jaket’ lateks di sekujur tubuh.

    Stern merupakan keturunan keluarga bankir Yahudi. Dia anak Antoine Jean Elie, pemilik Bank Stern. Ayahnya merupakan bangsawan Yahudi Jerman, yang bisa disejajarkan dengan Baron Rothschild. Dia tewas meninggalkan warisan senilai 763 juta dollar. Russel menggambarkan sosok Stern sebagai anak muda yang tak pada umumnya. Crime Magazine 12 April 2009 menggambarkan Stern sebagai pemuda yang lahir dengan sendok emas di mulutnya. Pada usia 22 tahun ia bergabung dalam bank milik keluarga dengan misi penyelamatan. Dan ia berhasil.

    Stern diketahui dekat dengan ketiga anak dan mantan istri pertamanya, Beatrice, seorang ahli sejarah seni. Stern dan Beatrice menikah pada tahun 1984 dan bercerai di tahun 1998. Beatrice adalah anak Michel David-Weill, Kepala Bank Dagang Prancis Lazard Freres & Co.

    Usai menikahi Beatrice, Stern lantas bergabung dengan Lazard Freres pada tahun 1992 dan merupakan pewaris sebelum akhirnya ia menjadi rival mertuanya. Perpecahan bermula saat Stern menggunakan uang kompensasi perusahaan untuk memulai bisnis Investment Real Returns (IRR). Stern dikenal lihai menghindar dari pajak lintas teritorial. Ketika tewas, Stern juga sedang menjabat sebagai Direktur Delta, perusahaan permesinan Inggris, dan Direktur Altadis, perusahaan tembakau Spanyol.

    Pascakematiannya, terungkap bahwa Stern memiliki investasi di Rusia dan baru saja bertemu beberapa pebisnis Rusia. Saat itu dia baru saja kehilangan investasi senilai 89 juta dollar di Rhodia, sebuah perusahaan kimia Prancis. Dinilai mengelola keuangan perusahaan dengan buruk, Stern disorong ke dalam sengketa hukum dengan perusahaan.

    Business Week 9 Mei 2005 menulis Rhodia menderita kerugian 2,9 miliar dollar dalam empat tahun terakhir dan masih berjuang untuk membayar hutang tiga miliar dollar. Bursa saham New York mencatat harga saham Rhodia anjlok dari 24 dollar menjadi dua dollar sejak cerai dari perusahaan raksasa farmasi dan kimia Prancis Rhone-Poulenc pada tahun 1998. Regulator Pasar Prancis, dalam temuan administratif yang dirilis 25 Maret 2005, menyalahkan Rhodia karena gagal mengungkap kebobrokan perusahaan, sebagaimana telah diinformasikan para investor sebelum kejatuhannya.

    Terkait pembunuhan Stern, publik kemudian mengenal sosok Cecile Brossard. Perempuan yang digambarkan berambut blonde dan memenuhi standar kecantikan ala catwalk ini merupakan kawan dekat Stern. Cecile membuat pengakuan bahwa dialah yang menembak Stern. Rekaman kamera memang menunjukkan bahwa Cecile adalah orang terakhir yang mengunjungi apartemen Stern di malam kematiannya.

    Jika terbukti bersalah, motif utama yang disangkakan pada Brossard adalah soal uang. Di bulan Januari 2005 Stern memberinya satu juta dollar. Beberapa hari sebelum insiden terjadi, Stern membekukan rekening karena marah pada Cecile. Meski menjadi simpanan Stern, Brossard juga memiliki suami seorang praktisi herbal, Xavier Gillet. Keduanya adalah pasangan yang memiliki masalah keuangan. Gillet, konon, mengetahui bahwa istrinya adalah perempuan simpanan Stern.

    Selain dikenal sebagai perempuan simpanan, Brossard yang berwajah tirus ini juga bekerja sebagai perempuan panggilan bertarif 1.300 dollar per jam di bawah mucikari Inggris terkenal Margaret MacDonald.

    Sebagian memprediksi, bila Brossard benar menembak Stern, maka hal tersebut tak direncanakan. Diduga keduanya bertengkar hebat sebelum akhirnya Stern ditembak. Pascapenembakan, Brossard sempat terbang ke Australia. Setelah diamankan dan diinterogasi, ia mengaku membunuh Stern dan membuat pistol ke Danau Jenewa. Namun, tak semua lantas puas dengan pengakuan Brossard. Ada yang menduga ia adalah pembunuh bayaran. Ditengarai ada orang lain yang terlibat dalam pembunuhan Stern. Jaksa Investigator, Michel-Alexander Graber, menggambarkan motif Cecile masih bertabir.

    Kematian Edmond Safra


    Pria Yahudi kelahiran Lebanon, Edmond Safra, juga keturunan bangsawan. Keluarganya tergolong manusia terkaya di dunia. Safra bergabung dalam bisnis keluarga di usia 16 tahun. Ketika tewas, dia adalah Presiden dan Direktur Pelaksana Republic National Bank of New York. Di satu-dua tahun sebelum kematiannya, ia bekerja sama dengan FBI untuk memonitor aktivitas cuci uang Mafia Rusia. Tak terelakkan, sebagian menduga kematiannya punya keterkaitan dengan Mafia Rusia.

    Edmond Safra dan perawatnya, Vivian Torrente tewas kehabisan oksigen pada 3 Desember 1999, setelah dua orang penyusup masuk paksa ke dalam glamorous penthouse-nya di Monaco. Safra dan istrinya, Lily, punya segudang rumah mewah di New York, London, dan Jenewa. Di La Leopolda, mereka punya sebuah villa fantastis di Villefranche-sur-Mer, yang dikunjungi oleh selebritas papan atas dunia seperti Frank Sinatra, Christina Onassis dan juga Elton John. Safra tewas di dalam penthouse split-level berkamar 20, seharga 5,9 juta dollar, dan bervista dermaga yacht.

    Safra dan Torrente tewas kehabisan oksigen karena terperangkap dalam ruang darurat berpintu baja. Mulanya mereka berusaha melindungi diri setelah seorang perawat pria, Ted Maher, melaporkan dua orang lelaki bertopeng masuk ke dalam apartemen. Maher merupakan perawat anak-anak dan sekaligus alumni anggota militer dalam operasi militer Amerika Serikat Green Beret.

    Akibat bertarung dengan kedua penyusup, panggul Maher terluka oleh pisau. Dia hampir saja tewas. Kepada penjaga pintu ia bercerita kedua salah satu penyusup menikamnya. Maher memberitahu Safra melalui ponsel dan diperintah menyalakan alarm. Untuk memancing nyala alarm asap, Maher lantas membakar tissue toilet dalam tong sampah, yang belakangan dituding menjadi muasal kebakaran hebat di apartemen Safra.

    Ketika terperangkap dalam ruang darurat, Safra juga mencoba menghubungi Lily yang sedang berada di sayap apartemen luas itu. Safra minta sang istri untuk segera membuka pintu kamar tidur agar asap mengalir keluar. Safra menghubungi Lily lima kali.

    Anehnya, sementara api terus membesar, tak ada polisi atau pemadam yang masuk ke dalam gedung selama dua jam. Terlambat untuk menyelamatkan Safra dan Torrente. Polisi dan pemadam mengaku telah meminta Safra keluar, tetapi dia menolak. Namun tentu saja Safra menolak keluar, takut kalau-kalau si penyusup segera menghajarnya bila keluar dari kamar darurat. Sementara Lily berhasil menyelamatkan diri tanpa luka.

    Hal aneh lainnya yang ditulis Russel ialah tak satu pun dari sebelas pengawal pribadi Safra tampak hari itu. Kabarnya, Lily, mengirim mereka ke La Leopolda beberapa pekan sebelum kejadian. Memang, Monaco tak butuh pengawal. Monaco adalah tempat teraman di dunia, meski kenyataannya sistem alarm tak bekerja malam itu. Rekaman kamera dari sirkuit terdekat juga hilang.

    Samuel Cohen, Kepala Pengawal Safra yang bertarif 1.000 dollar per hari yang juga mantan agen Mossad, bergesa menuju lokasi ketika dikabari. Namun sesampainya di sana dia justru dicegah oleh kepolisian Monaco untuk masuk ke dalam gedung. Kesalah pahaman terjadi. Lebih banyak waktu terbuang untuk menyelamatkan Safra. Dalam bukunya, 13 Mysteres de la Cote (13 Mysteries of the Riviera), Roger-Louis Bianchini, sebagaimana dikutip Russel, memaparkan belakangan diketahui bahwa Kepala Kepolisian Monaco dimutasi karena ketahuan memiliki hubungan dengan Mafia Rusia.

    Patrick Middleton, Jurnalis Riviera Reporter, mengungkapkan kehadiran Mafia Rusia di Monaco bukan lagi rahasia. Middleton merujuk pada pernyataan polisi bahwa panggilan telepon secara rutin dan terbuka disadap dan tak ada dugaan akan ada ancaman malam itu. “Mudah untuk melihat konspirasi di sini,” kata dia. Kenihilan tanda-tanda perampokan menguatkan dugaan bahwa Safra adalah korban pembunuhan berdasar kontrak.

    Maher, oleh penyidik, kemudian dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tewasnya Safra. Ia mengaku diancam untuk mengaku. Bila tidak, polisi mengancam akan memisahkan istrinya, Heidi, dari anak-anak mereka. Akhirnya Maher mengaku pada polisi bahwa dialah dalang dari semua ini. Dia menikam dirinya sendiri agar terkesan sebagai pahlawan. Dan dialah yang menyalakan api di apartemen itu. Anehnya, pengakuan yang ditanda tangani Maher dibuat dalam Bahasa Prancis, bahasa yang tak dia pahami. Kini, papar Russel, pengakuan tersebut telah ditarik kembali.

    Dengan modal pengakuan tersebut, penyidik Daniel Serdet segera menumpas berbagai teori konspirasi dengan mengatakan ‘tak ada misteri di sini.’ Tetap saja skenario konspirasi bermunculan. Ada yang menyangka Maher telah dibayar oleh sekelompok Mafia Rusia untuk membunuh Safra. Penulis Dominick Dunne, seperti yang ditulis David Kohn dalam 48 Hours 11 Juli 2003, berpendapat Maher tak bersalah.

    Misteri lainnya adalah istri Safra sendiri. Lily. Banyak yang mempertanyakan apa sulitnya bagi Lily mengeluarkan suaminya dari ruang pengaman. Lily menolak menjelaskan. Bulan Februari 2003, Pengacara Lily, Marc Bonnant, melalui 48 Hours, menyatakan Lily tidak terlibat dalam tewasnya Safra.

    Lily adalah janda kaya, Kepala Edmond J Safra Philantropic Foundation. Dia mewarisi 5,5 miliar dollar kekayaan Safra. Lily juga punya posisi istimewa di London. Dalam berbagai perhelatan Lily duduk berdekatan dengan Pangeran Charles dan Camilla. Sebelum menikah dengan Safra, Lily menikah tiga kali. Suami pertamanya pengusaha manufaktur pakaian, Mario Cohen. Dari Cohen dia memiliki tiga anak. Suami keduanya pemilik bisnis elektrik, Alfredo Monteverde. Monteverde bunuh diri dan meninggalkan warisan 230 juta dollar. Suami ketiganya seorang pebisnis, Samuel Bendahan. Pada 1976 dia menikah dengan Safra.

    Middleton juga menaro perhatian lebih pada Lily. Sebelum kasus Safra, Lily juga diperbincangkan karena kematian tak wajar suami keduanya. Konon Monteverde bunuh diri. Namun Dunne justru mendapat cerita berbeda dari seorang kerabat Monteverde, “Apakah menembak diri sendiri tepat di jantung bisa dikatakan bunuh diri?” begitu ungkap kerabat pada Dunne, seperti yang dimuat Kohn dalam situs 48 Hours. Namun, dokumen yang didapat 48 Hours, berupa sertifikat kematian dan laporan polisi, tak menyebutkan adanya dua luka tembak di jasad Monteverde.

    Ketika 30 tahun kemudian suami keempat Lily tewas tak wajar, publik tentu kembali bertanya-tanya. Terlebih setelah diketahui bahwa dua bulan sebelum tewas, Safra mengubah kehendaknya. Ia mengeluarkan nama dua saudaranya dari daftar penerima kekayaan dan mewariskan kendali dominan atas empat miliar dollar kekayaannya pada Lily.

    Bonnant kembali membantah habis pendapat tersebut. Tak hanya menampik keterlibatan Lily, Bonnant juga menolak pendapat bahwa mafia atau musuh bisnis Safra terlibat dalam pembunuhan ini. “Bila mereka menghendaki Safra mati, tentu caranya tidak dengan meminta bantuan perawat membuat api dalam keranjang sampah,” kata Bonnant, seperti yang dikutip 48 Hours.

    Terlepas dari siapa yang membakar keranjang sampah, bagaimana mungkin api kecil dari keranjang sampah berubah menjadi kobaran besar yang menghabiskan bangunan apartemen? tulis Kohn.

    Monaco tak selalu berarti surga


    Senada dengan Bonnant, Penyidik Monaco juga menolak anggapan bahwa kepolisian lamban dan setengah bertanggung jawab atas kematian Safra. Polisi Monaco dikenal sangat teliti. Sehingga, bagi Middleton, agak naif bila Maher melakukan pembunuhan seorang diri. Ia juga mengungkapkan rumor yang berkembang bahwa Safra adalah korban serangan kelompok Mafia Rusia atau kelompok garis keras Palestina.

    Monaco adalah surga bebas pajak, tempat hidup komunitas high-end, dengan jumlah polisi per kapita terbanyak di dunia, juga kamera keamanan di sepenjuru area. Lebih kecil dari Taman Kota Manhattan, dengan enam ribu penduduk, diperkirakan Monaco menyimpan dana 75 miliar dollar di dalam bank, yang tersebar dalam 400 ribu rekening.

    John Lichfield dari The Independent menulis pembunuhan Safra menodai citra Monaco sebagai lokus teraman di bumi ini. Bagaimana bisa, tulisnya, dua pria bersenjata merangsek ke dalam apartemen berpenjagaan ketat milik Safra, salah satu manusia terkaya di planet ini. Bagaimana mereka bisa membakar apartemen (bila memang mereka melakukannya)? Bagaimana mereka bisa kabur tanpa terlihat oleh para petugas resepsionis atau oleh salah satu dari 130 kamera keamanan yang mengintai secara terus menerus di jalan-jalan utama?

    Monaco dikenal menjadi tempat tinggal ribuan miliuner dan jutawan dunia. Di sana tinggal pula bintang sekelas Ringo Starr, Shirley Bassey, supermodel Helena Christiansen, fotografer Helmut Newton, dan atlet-atlet papan atas seperti Michael Schumacher dan David Coulthard. Tetapi tak banyak yang tahu Monaco juga jadi tempat tinggal beberapa warga Rusia. Mereka datang dan pergi dengan uang mereka dengan cepat dan tanpa banyak diketahui.

    Selain karena bebas pajak, Monaco menjadi pilihan kalangan jetset karena di sana angka kriminalitas hampir nihil. Angka pembunuhan di Monaco hanya satu per dekade. Tak pernah ada pembunuhan yang tak terungkap sejak 1960-an. Tersedia satu polisi bagi 60 orang. Mitos setempat menuturkan Anda dapat memindahkan perhiasan dari kasino ke mobil Anda pukul 2 pagi tanpa takut akan dirampok.

    Keluarga Safra membangun imperium bisnis pertama mereka di atas kereta unta di masa kekuasaan Ottoman. Mereka membangun kerajaan keuangan di New York dan Luxemburg dalam waktu 30 tahun. Safra adalah miliuner yang mengelola perusahaan bersama pejabat sekelas Shimon Peres. BBC, pada tanggal 3 Desember 1999, menulis bisnis Safra terbilang tak biasa. Sebab, lebih banyak dibangun atas deposit dibanding hutang atau pinjaman. Pinjaman hanya menempati 30 persen dari total aset perusahaan Safra. Safra mendirikan Republic National Bank of New York pada tahun 1966 dan merupakan pemegang saham dominan di bank itu. Beberapa saat sebelum kematiannya, Safra menjual Republic New York Corporation dan Republic Holdings of Luxemburg pada HSBC seharga 10,3 miliar dollar.

    Ancaman mulai mendekati Safra dalam tahap akhir perundingan pembelian bank oleh HSBC. Akhir bulan Februari 1999 Safra setuju untuk mengurangi 280 juta poundsterling dari harga yang dia tawarkan. Keputusannya menjual bank mengejutkan sebagian kalangan. Spekulasi muncul bahwa langkahnya berkaitan dengan kerugian yang dideritanya akibat bisnis dalam sekuritas Rusia tahun 1998 silam. Sahamnya di London turun dua persen setelah pengumuman penjualan.

    Aktivitas bisnis Safra memang berpotensi memunculkan musuh-musuh. Safra berbisnis dengan pengusaha Rusia dan juga Palestina. Terlebih, Safra diketahui pernah menjalin kerjasama dengan FBI untuk mengungkap Mafia Rusia.

    Baik Stern maupun Safra, keduanya adalah orang yang selalu berada dalam penjagaan ketat. Keduanya tampak ketakutan dengan keselamatan hidup mereka karena alasan yang tak sepenuhnya jelas. Keduanya punya banyak musuh. Safra punya sifat paranoid. Dia punya banyak staf keamanan. Stern merupakan pengoleksi senjata. Kasus Rhodia tampaknya membuat dia agak cemas.

    Dalam skenario lain yang tak kalah menggugah, Stern dan Safra beririsan. Rekan bisnis Stern, Bankir Amerika Jeffrey Keil, pernah menjadi presiden di Republic Bank of New York Corporation, bank yang dimiliki Safra. Stern dan Keil membantu para broker mengakuisisi bank Safra melalui HSBC cabang London senilai 9,9 miliar dollar. Kesepakatan dicapai beberapa pekan setelah kematian Safra.

    Safra dan Stern secara pribadi cukup berbeda. Di usianya 50 tahun ketika tewas, Stern merupakan pemegang sabuk hitam karate dan pemain poker handal. Safra, yang tewas di usia 68 tahun, mengidap Parkinson stadium lanjut. Delapan perawat memberikan perawatan secara bergantian, 24 jam penuh. Berbeda dengan Stern yang dikenal menyebalkan, Safra justru pribadi yang disukai dalam pergaulan bisnis, meski agak keras. Sedangkan Stern dikenal kasar, agresif, temperamental, sekaligus juga figur karismatik dan kuat bagi banyak orang.

    Pembunuhan Stern dan Safra sama-sama sebuah misteri yang masih terbungkus dalam konundrum. Begitu tulis Russel. Mereka dikuburkan di permakaman Yahudi Veyrier, Jenewa, Swiss. Jasad keduanya hanya terpisah sejauh 100 yard.


     
    posted by Warastuti | Permalink | 0 comments
    Monday, June 08, 2009,7:45 AM
    Misteri Medis di Balik Prita



    Demam, sulit buang air besar, dan kehilangan nafsu makan dialami Prita Mulyasari, 32 tahun. Tak tahan, akhirnya ia memutuskan datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Internasional (RSI) Omni, Alam Sutera, Tangerang. Kedatangan Prita disambut oleh dokter jaga bernama I. Dokter inilah yang kemudian menanyai Prita seputar keluhan yang dirasakan (anamnesis).

    Prita diminta melakukan tes darah. Dari hasil tes darah tersebut diketahui trombosit darah Prita turun drastis menjadi 27 ribu per mikroliter, jauh dari jumlah normal 150 ribu per mikroliter. Sebuah angka yang mengindikasikan Prita mungkin terserang demam berdarah.

    Dokter merekomendasikan Prita dirawat inap. Selang empat menit kemudian, darah Prita kembali diambil untuk kepentingan yang sama. Prita mendapat jawaban hasil yang sama, yakni 27 ribu per mikroliter. Oleh I, Prita direkomendasikan untuk menjalani rawat inap di bawah tanggung jawab dokter bernama H.

    Keesokan harinya Prita terkejut karena mendapati jumlah trombositnya meningkat jadi 181 ribu per mikroliter. Prita juga merasa panik karena begitu banyak obat suntik yang ia terima. H, dokter spesialis yang menanganinya, tak pernah memberi jawaban jelas.

    “Saya lihat sendiri, banyak sekali ampul di meja kamar rawat Prita,” ujar Arif Danardono, kakak kandung Prita.

    Arif sempat bertanya pada perawat perihal obat-obat suntik tersebut. Namun, ia tak mendapat jawaban jelas. Keesokan harinya, tutur Arif, ampul-ampul tersebut sudah tidak ada.

    Tangan Prita bengkak. Ia juga merasa sesak nafas. Sebuah gangguan baru yang sebelumnya tidak ia alami. Lulusan TAFE, Australia ini merasa haknya sebagai pasien, yang notabebe awam terhadap dunia medis, diabaikan oleh RSI Omni. Prita kesal karena hasil laboratorium tak secara lengkap diberikan padanya.

    Dengan maksud agar nasibnya tak terulang pada orang lain, Prita lantas membuat surel yang ia kirimkan pada sepuluh temannya. Prita berujar tak pernah secara sengaja menyebarkan surel tersebut ke segala penjuru. Atas surel tersebut, RSI Omni mengajak Prita beradu di meja hijau.

    Membantah habis-habisan

    Rabu (4/6), manajemen RSI Omni menggelar konferensi pers, setelah selama ini bungkam dan menghindari wartawan. Pihak rumah sakit memaparkan terpaksa menempuh jalur hukum karena merasa Prita tak menunjukkan itikad baiknya. Pengacara RSI Omni, Risma Situmorang memaparkan ia dan pihak rumah sakit pernah melakukan pertemuan dengan Andri Nugroho, suami Prita. Namun kedua pihak tidak mendapat titik temu. Prita masih bersikeras menginginkan hasil pemeriksaan laboratorium yang mengatakan jumlah trombositnya ‘tinggal’ 27 ribu per mikroliter.

    Direktur RSI Omni, Bina Ratna Kusuma Fitri, berargumen hasil tersebut tak bisa diberikan karena tidak valid. Namun, dengan dugaan demam berdarah, bilakah Prita dirawat inap jika jumlah trombositnya 181 ribu mikroliter? Bina berkilah alasan rawat inap tidak didasarkan pada data jumlah trombosit.

    Pemburukan kondisi Prita di hari rawat ke-3 dan 4 menurut Bina merupakan perkembangan penyakit menuju fase kesembuhan. Bina juga berujar obat-obat yang diterima Prita merupakan obat suportif. Ia tak menjelaskan jenis obat dan peruntukannya. Definisi obat suportif, dalam dunia farmasi, ialah obat yang bersifat komplemen, seperti vitamin dan penambah nafsu makan. Prita patut bertanya bilakah obat semacam ini harus diberikan secara invasif (melalui jaringan darah).

    Bina juga menampik bila RSI Omni dikatakan salah dalam menghitung jumlah trombosit Prita. “Dalam teori dikatakan kemungkinan penggumpalan trombosit dan pereaksi EDTA 0,9 hingga 1,9 persen,” kata Bina mengutip teori hematologi.

    Dalam prosedur kerja pengambilan sampel darah, biasanya analis sudah memperhitungkan kemungkinan kegagalan tes. Sehingga, dengan satu kali pengambilan darah analis sudah dapat melakukan dua-tiga kali perhitungan ulang. Pengambilan ulang sampel darah untuk kepentingan yang sama, berpotensi menerbitkan tanda tanya tentang profesionalitas layanan rumah sakit.

    Banding untuk sepulas kata maaf

    Putusan perdata telah jatuh. Majelis hakim memenangkan RSI Omni. Namun Risma masih gigih menyatakan banding. Apa sebab? “Ini lain soal dengan perikemanusiaan. Ini soal hak dan kewajiban,” Risma berargumen. Pada intinya, tegas anggota tim pengacara RSI Omni, Heribetus S. Hartojo, pihak rumah sakit menginginkan Prita menulis permohonan maaf melalui media.

    Bagi Omni, surel Prita merupakan bentuk pencemaran nama baik. Pihak rumah sakit, jelas Risma, keberatan dengan kata ‘penipuan’ yang digunakan pada judul surel. Isinya, tambah Risma, bernada mencemarkan nama baik dua dokter RSI Omni. Dengan alasan tersebut Heribetus menilai pasal 27 ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) logis digunakan dalam berkas pidana. Dalam jumpa pers itu, RSI Omni seolah membuat simpul mati 'Ucapkan maaf atau kita lanjutkan.'

    Keajaiban, pulang ke rumah

    Di siang yang sama, di Pengadilan Negeri Tangerang, sebuah simpul terbuka. Karel Tuffu, Ketua Majelis Hakim, mengabarkan perubahan status Prita sebagai tahanan. “Subhanallah..,” kalimat thayyibah itu diucap Prita berkali-kali sambil terus berlinang airmata. Memang Prita tak pernah menyangka hari itu ia bisa kembali ke rumah. Kedua anak Prita, Khairan Ananta Nugroho, 3 tahun, dan Ranarya Puandida Nugroho, satu tahun tiga bulan, sudah menanti sang bunda di beranda rumah. Rumah Prita dan suami, Andri, disesaki banyak wartawan dan kerabat.

    Meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Tangerang, pukul 18.30 Prita tiba di rumah Jalan Kucica, Bintaro Jaya, Tangerang. Ia langsung menghambur, menggendong, dan menciumi si sulung Ananta dan adiknya, Ranarya. Dua bocah lucu itu tampak bingung dengan suasana sekeliling mereka. Setahu mereka, selama ini ibu mereka sedang ada di rumah sakit. “Sengaja kami tak pernah bawa mereka ke Lapas, karena khawatir menjadi trauma bagi mereka,” jelas Arif.

    Prita berujar hal pertama yang akan dilakukannya adalah memulihkan kondisi batin anak-anaknya. Menurut cerita para sanak, anak-anak Prita jadi agak pendiam belakangan ini. Prita membawakan bingkisan ungu polkadot untuk si sulung, yang tampak lebih dekat dengan bundanya dibanding si bungsu.

    Mengenai ‘keajaiban’ yang datang sore itu, Arif berkisah. Di hari yang sama pukul 12.00, Syamsu Anwar, mengabari bahwa permohonan penangguhan penahanan masih dimentahkan. Lepas pukul 12.00 keluarga Prita merasakan harapan ketika Jusuf Kalla menyatakan dukungannya pada Prita. Kedatangan Megawati Soekarnoputri ke Lapas Wanita Tangerang menambah tebal harapan Arif sekeluarga. Tak lama setelahnya, status Prita diubah menjadi tahanan kota. Arif merasa perhatian orang-orang berpengaruh pada Prita sedikit banyak berimbas pada ‘keajaiban’ tersebut.

    Sejujurnya Arif dan Andri merasa sedikit trauma memohon penangguhan penahanan. “Sebab waktu kami datang memohon dengan Komnas HAM, masa tahanan malah diperpanjang sampai 23 Juni,” jelas Arif. Keluarga sudah kehabisan akal.

    Berlebihan. Begitu kesan publik pada kasus yang menimpa Prita Mulyasari. Bila perkara hanya sebatas perdata, mungkin publik tidak akan geram. Namun, ceritanya jadi berbeda bila ibu menyusui ini sampai harus mendekam di bui selama tiga pekan. Terlebih ‘hukuman’ itu diterimanya karena mengeluhkan layanan rumah sakit. Seolah, surel itu menjadi alasan baginya untuk mendapat perlakuan layaknya pelaku kriminal.

    Kini, Prita menempuh babak perjuangan baru. Di meja sidang pidana ia harus membuktikan. Menuntut hak tak sama dengan provokator atau seorang kriminal.


    Labels: Kesehatan, Perempuan

     
    posted by Warastuti | Permalink | 1 comments
    Sunday, June 07, 2009,2:00 AM
    Cerita Pertemuan Penting



    Hari itu hari Jumat. Tetapi saya mengenakan pakaian yang biasa saya kenakan hari Senin. Itu tanda 'I'm still on fire on this almost-weekend', meski pada kenyataannya memang blus batik yang biasa saya pakai di hari Jumat sedang dicuci. Saat makan siang di kantin Departemen Perindustrian (Depperin), saya makan nasi Padang. Ayam bakar, lalap, kuah rendang, dan sambal. Tetapi saya keburu ingat kalau saya akan mengalami saat penting selepas makan siang. Khawatir lalap hijaunya nyelip-nyelip di gigi, akhirnya saya tak sentuh lalapnya. Hahahahaha. Ga penting yaa. Huhuhu.. memalukan.

    Pokoknya hari itu hari yang penting. Saya akan bertemu sang idola.

    Bukan Denzel Washington, bukan Jamie Aditya, atau Kobe Bryant, apalagi Kangen Band. Dibanding Denzel, mungkin ia sosok heroik yang nyata. Bukan sekadar dalam film. Berawal dari tukar pendapat melalui email, bertukar pesan singkat mengenai industri, akhirnya siang itu dengan izin Allah kami bertemu. Detil di balik teciptanya pertemuan tersebut biarlah menjadi rahasia saya. Hehehe. Tapi sungguh ini Allah yang atur.

    Percaya atau tidak, saya baru menerima kepastian pertemuan kami hari itu pukul 7 pagi. Perjumpaan dijadwalkan pukul 9.30 dalam sebuah acara konferensi pers (konpers) di Depperin. Parahnya, pesan baru saya baca pukul 8 pagi. Padahal saya belum bersiap. Jarak Depperin, Gatot Subroto-Serpong lumayan jauh. Akhirnya, sambil deg-degan (ya amppuun please deeh pake deg-degan segala), saya telepon beliau memberi tahu kemungkinan telat. Ternyata konpers diundur setengah jam menjadi pukul 10.

    Saya memutuskan naik kereta ekspress press press. Sesampainya di Stasiun Serpong, tak lama kemudian kereta ekspress tiba. Pucuk dicinta ulam tiba. Tak sengaja saya dengar ibu di samping saya bicara “Ini kan harusnya datang jam 9, tapi diundur karena ada kerusakan. Jadi baru berangkat sekarang.” Fuuh.. Ya Rabb! Kalau tak ada kereta ini, maka saya harus naik kereta ekonomi, yang berjalan agak lamban, dan risikonya saya sampai lebih telat. Akhirnya saya sampai di lokasi pertemuan pukul 10.15. Telat memang, tetapi tak apa asal saya tak kehilangan jejaknya dan tak mengecewakannya. Hari itu saya dapat hikmah tentang ketentuan Allah. Bila Allah berkehendak, maka tiada satu pun penghalang.

    Saya mengagumi beliau bukan karena faktor ‘ganteng’itas seperti halnya perempuan menggemari Sandiaga Uno. Saya kagum pada beliau karena kegantengan hatinya. Ramah dan terkesan tanpa jarak, begitulah kesan pertama bertemu Bapak ini. Yang saya kagumi juga adalah sikap apresiatif dan konkret beliau. Bagi saya, beliau memiliki ‘smiling aura’ (kalau penyiar kan harus punya smiling voice ya..), kerendah hatian, dan sepertinya tidak menganggap remeh siapa pun yang jadi lawan bicaranya.

    Sejak bertemu beliau saya jadi mengerti berkah menjadi orang sabar dan sahaja.

    Sepulang wawancara ah.. kok rasanya tadi banyak yang salah yaa.. kok tadi begini.. begitu.. Duh, berasa gak sempurna banget deeh. Rasanya ingin ketemu lagi. Hehehe. Ups.

    Setiap bertemu orang pandai, banyak ilmu, dan bijaksana, saya selalu melakukan aksi curcol alias curhat colongan alias minta nasehat. Beliau memaparkan mengenai kesuksesan dan tanda (sign). Ternyata kami memiliki kesamaan, yakni percaya pada tanda (sign). Coelho menyiratkan hal ini dalam The Alchemist, Susanna Tamaro mengguratkannya dalam sebuah pesan indah ‘va dova ti porta il cuore’ (pergilah kemana hatimu membawa).

    Menurut beliau, kesuksesan itu ditandai oleh tiga hal. Pertama, ruh atau passion. Kedua, efek ekonomi (economic machine). Ketiga, titik dimana kita bisa jadi yang terbaik. Dia mengamati rekan-rekan seangkatannya yang meraih sukses dengan cara masing-masing yang sungguh unik. Someday, you’ll find it, ujarnya begitu yakin, membuat saya terbius jadi yakin juga. Biasanya, saya selalu PD dengan teori Mario Teguh. Tetapi kali itu, saat mengobrol dengan beliau, tiba-tiba saya tak PD, hahahaha.

    Yang mengejutkan, nasehat pertama yang meluncur darinya adalah terkait pasangan hidup. Dia bilang itu sangat krusial. “Kalau memilih lelaki A, kamu akan begini.. Kalau memilih lelaki B, kamu akan bekerja di sini..dan seterusnya.” Semua kemungkinan telah Allah persiapkan. Namun, tekannya, optimalitas hidup kita akan linier dengan kedekatan kita pada Sang Khalik. Dialah yang memberi tanda.

    Masih soal pasangan hidup (halah.. masih gue lanjutin juga), dia bilang kemampuan mengenali tanda (mengenai siapa sosok yang tepat) akan berkurang bila kita sering pacaran. Lalu dengan bodohnya saya berkomentar “Saya nggak pernah pacaran kok, Pak..” OMG!!! Dodolnyaaa..:((

    Yang terpenting, tulisan-tulisan beliau, paparan-paparan beliau, membuat saya mengerti the heart of industry. Dalam paparannya, industri tidak tergambar sebagai gurita yang menjerati ikan-ikan kecil, bukan pula cumi-cumi yang menyemprot tinta hitam seenaknya. Beliau mengajarkan hal yang tak pernah diajarkan dosen teknologi farmasi saya, mengenai pentingnya penyediaan obat dalam negeri. Dari paparan beliau juga saya jadi tahu bahwa saya tak tahu apa-apa soal industri.

    Seperti Bu Debbie, seperti Pak Oei, seperti Bang Hokky, Bapak yang lucu dan suka bercanda ini merupakan inspirasi bagi saya. (Terima kasih, Pak!) Saya juga menceritakan kesan pertemuan ini pada Pak Hamarullah dan Mas Osca, rekan-rekan beliau. Pada Mas Osca saya malah sempat cerita soal harapan secara lebih detil. Hehehe. Tapi itu rahasia Mas Osca saja deh. Malu ah.

    Yak, inilah tulisan pertama, yang notabene bukan merupakan bagian dari tulisan yang ditugaskan kantor=D


    Labels: Cerita

     
    posted by Warastuti | Permalink | 2 comments
    Wednesday, May 06, 2009,7:11 AM
    Hikayat Marta Kierkegaard


    1.

    Setiap tahun baru tiba, Marta selalu murung. Inilah saat yang paling ia benci, berkumpul dengan keluarga besar. Tak pernah ada yang tahu sampai suatu hari ia bicara.

    “Marta mengapa kau murung? Kau buat mummy malu saja,” begitu keluh mama Marta
    “Mengapa sih kau selalu saja menyendiri.. tak mau berbaur dengan para sepupumu?”

    Marta merunduk.

    Sesaat kemudian ia mendongak, matanya berkaca-kaca memandang mama.

    “Karena mereka mengatai aku cacat, Muum,”

    Marta terisak.

    “Dulu Alice (salah satu sepupu Marta, -red.) pernah cerita padaku. Dia tanya pada temanku,’Hai kamu kenal Marta tidak? Yang jari tangannya hanya enam?’” Marta masih terisak.

    “I swear they will creep 'n front of me.. they will pathetically bend on their knee, someday,” sumpah Marta dalam bahasa Inggris.

    Luka ini, bagi Marta, sulit terobati.

    --

    “Daddy, bolehkah aku hanya mendoakanmu?”

    “Aku tak perlu doakan ibumu kan, Dad?” kata Marta yang enggan menyebut “nenek”

    “No. You only have responsibility to pray your parents,” jawab ayah Marta.

    Selain sepupu-sepupunya, di hari pergantian tahun Marta sangat malas bertemu neneknya. Ia selalu mendamba nenek baik hati seperti di dongeng-dongeng.

    “Nenek selalu memperlakukanku berbeda, Daddy. I knew it since I was born, Daaad. Though I was a baby, I could feel it.”

    “The only reason that I have to thank her was you, Daddy. I feel have to thank her for giving me you. That’s it.”

    2.

    Marta bersenandung. Bukan dengan suaranya, tetapi dengan enam jarinya. Kepalanya bergerak naik turun bersama denting piano. Rambutnya berayun-ayun. Mata indahnya sesekali terpejam, membuat penekanan pada nada tertentu. Dari binar matanya kita akan tahu, kita sedang menghadapi gadis yang tak mudah dikalahkan. “Kalah” di sini bermakna luas, seluas-luasnya.

    Enam jari karunia Tuhan membuat Marta menjadi seorang pianis hebat. Alga Indria pernah berkata suatu kali. “Kekuranganmu adalah kelebihanmu.” Kalimat yang dahsyat.

    Tuhan menunjukkan konsep keadilan dengan memberikan Marta seorang ibu yang tak putus memberikan dukungan, menanam mimpi untuk pertama kalinya. Sebuah ide yang sepintas tampak gila. Bagaimana mungkin enam jari bisa menjadikan Marta pianis hebat? Kahlil Gibran pernah menulis, “Senandung lirih seorang ibu akan mewujud dalam diri anaknya”. Impian ibu dan gumam lirihnya memang mahadahsyat. Ia akan diam-diam mewujud dalam diri sang anak.

    3.

    Marta dirundung gundah. Disimaknya kembali halaman buku itu. Ada serangkai cerita di sana:

    “Suatu kali ada pengembara yang kelelahan. Santiago, Si Pengembara, beristirahat sejenak, duduk di bawah pohon rindang di tepi sungai. Semilir angin dan suara gemericik air membuatnya mengantuk dan kemudian tertidur. Tak jauh dari tempatnya tidur, seekor ular mengintai, hendak mematuk Santiago.

    Di seberang sungai seekor kodok melompat ke atas tempurung seekor kura-kura. Keduanya kemudian menyeberangi sungai. Sesampainya di seberang, kodok tersebut segera melompat menuju wajah Santiago.

    Dan happ! Alih-alih hendak mematuk kepala Santiago yang tengah tertidur pulas, si ular justru mematuk sang kodok. Selamatlah Santiago dari patukan ular. Begitulah Tuhan mengatur keselamatan Santiago. Rahmat Tuhan itu begitu detil, lebih detil dari partitur Beethoven sekalipun. Tak akan ada yang terlewat.”

    Marta memejamkan matanya, mencerna kalimat demi kalimat. Dari sudut matanya keluar bulir bening. Dia ingin bisa percaya, rahmat Tuhan juga tak akan luput baginya. Rahmat yang dinantinya dinamai orang jatuh-cinta.


    Labels: Fiksi

     
    posted by Warastuti | Permalink | 3 comments
    Wednesday, March 11, 2009,1:29 AM
    You Were There



    I guess you heard, I guess you know
    In time I'd have told you, but I guess I'm too slow
    And it's overly romantic but I know that it's real
    I hope you don't you mind if I say what I feel
    It's like I'm in somebody else's dream,
    This could not be happening to me

    But you were there, and you were everything I'd never seen
    You woke me up from this long and endless sleep
    I was alone
    I opened my eyes and you were there

    Don't be alarmed, no don't be concerned
    I don't want to change things
    leave them just as they were
    I mean nothing's really different
    It's me who feel strange
    I'm always lost for words when someone mentions your name
    I know I'll get over this for sure
    I'm not the type who dreams there could be more

    But you were there, and you were everything I'd never seen
    You woke me up from this long and endless sleep
    I was alone
    I opened my eyes and you were there

    Can I take your smile home with me,
    or the magic in your hair?
    The rain has stopped, the storm has passed
    Look at all the colors now the sun's here at last
    I supposed that you'll be leaving but I want you to know
    Part of you stays with me even after you go
    Like an actor playing someone else's scene
    This could not be happening to me

    But you were there, and you were everything I'd never seen
    You woke me up from this long and empty sleep
    I was alone
    I opened my eyes and no, I'm not alone, I'm not alone
    I opened my eyes and you were there


    taken from Song "You Were There", by Regine Velasquez


    Labels: Kutipan

     
    posted by Warastuti | Permalink | 4 comments
    Saturday, February 28, 2009,11:09 PM
    Akal Bulus Citra



    Kita tak harus kuliah di Harvard untuk yakin bahwa kita bernilai
    Kita tak harus memaksa diri menjadi liberal agar dinilai hebat
    Kita tak harus memantang kue cucur agar tak dinilai puritan

    Kesederhanaan adalah pantai samudra pengetahuan
    Niatan baik adalah jembatan menuju pencerahan
    Kejujuran, dia setapak bahu gunung kejayaan

    Selebihnya hanya setan setan, setan
    yang berjongkok menanti-nanti
    Kapan kiranya bisa mereka tuai kemenangan:
    Kehancuran yang dimotori tuah pikiran
    sekelompok mereka
    yang gemar mengadu domba,
    menyipta citra dan menggemakan bisikan-bisikan,
    membenci si naif, juga si baik,
    menyebut diri ‘kaum yang tercerahkan’


    Labels: Sajak, Sosial Budaya

     
    posted by Warastuti | Permalink | 2 comments
    ,11:07 PM
    Padanya Mutiara



    Saya punya seorang guru. Ia satu-satunya guru yang membuat saya meneteskan airmata di kelas. Itu karena ceritanya mengenai kemuliaan guru, sebuah kisah yang mendasari pilihannya menjadi guru. Saya sayang dan hormat kepadanya, meski kami berbeda keyakinan. Namun, setiap kali ia bicara soal bom Bali atau WTC, entah mengapa, saya merasa seketika ia melimpahkan kesalahan ke muka saya. Saya hanya bisa diam. Tidak tepat rasanya menanggapi, meski saya menengarai ada yang salah dalam kalimat beliau.

    Pernah suatu kali, dalam percakapan panjang, ia bertutur mengenai keprihatinannya pada saya. “Nanti sanggul, kebaya, semuanya hilang, karena semua ibu-ibu memakai yang seperti ini (ia menunjuk ke arah jilbab saya).” Saya tersenyum saja. Di ranah seputar itu, saya menyadari kami berdua berbeda dalam membaca persoalan. Sebenarnya agak sedih sih. Ingin rasanya menjelaskan bahwa tak pernah ada yang dipaksa mengenakan jilbab. Perintah Tuhan mengikat hati masing-masing individu. Tapi, sudahlah. Saya tetap mengaguminya seperti sediakala. Karena padanya tetap ada mutiara.


     
    posted by Warastuti | Permalink | 1 comments
    ,11:03 PM
    Curhatan Si Mimi


    Kami duduk di bangku kayu yang warnanya coklat pudar. Pudar bukan karena usang. Tetapi memang aksen kayunya dibuat begitu rupa. Bangku model ‘warteg’. Berhadapan, dengan meja sebagai demarkasi antara si penyerita dan pendengarnya. Kepada saya Mimi bercerita.

    Sudah lama Mimi menyimpan rasa pada Momo. Keduanya karib saya. Mimi menyukai Momo karena tiga alasan. Pertama, dalam persepsinya Momo adalah sosok moderat. Momo si ‘anak masjid’ yang pemikirannya cukup terbuka dan santun. Gurauan kami-kami semasa kuliah dulu, “terbuka atau tidaknya pemikiranmu itu tergantung di masjid kampus bagian mana kamu beraktivitas”. Kedua, Momo bagi Mimi adalah orang yang humoris. Mimi memang sering tergelak-gelak merespon sikap dan kata-kata Momo. Dan alasan yang terakhir, Momo suka beramal. Memang, Momo ini tergolong assabiqunal awwalun dalam perkara sumbang menyumbang.

    Namun di hadapan saya kini Mimi muram. Harapannya untuk disunting Momo kandas. Bukan lantaran Momo tak suka pada Mimi. Kalaupun demikian, saya, yang dekat sekali dengan Mimi, tahu benar kalau ia tak akan seliris sekarang. Alasan kemirisan Mimi fundamental sekali menurut saya.

    Dari seorang sumber terpercaya Mimi mendengar kalau Momo ingin pendampingnya berasal dari suku yang sama dengannya. Tak hanya itu, Momo ingin pendampingnya lulusan keperawatan. Alamak. Yang ada juga perawat mesin, perawat jalan, perawat kabel listrik di kampus kami.

    “Kok orang itu tak sebaik bayanganku ya,” ujar Mimi sambil memutar-mutar gelas sirup di hadapannya. Ia merasa sudah termakan mitos yang dibangunnya sendiri. Jelas kecewa. Tapi bukan karena ‘tertolak’, menurut saya. Mungkin, lebih tepatnya Mimi kecewa pada sangkaan baiknya pada orang lain, Si Momo itu.

    Saya juga ikut berkernyit dengan kedua parameter Momo dalam mencari konco wingking. Ya namanya juga konco wingking, alias rekan belakang. Boleh jadi persepsi Momo mengenai perempuan memang mengalami hmm.. suatu keterbatasan. Momo berasal dari Sukuu.. sebutlah Sate, Suku Sate. Konon, Keluarga Momo merupakan kasta ningrat dalam Suku Sate. Keningratan inilah yang jadi alasan baginya untuk memilih pendamping yang sama-kampung. POKOKNYA harus Suku Sate. Biarpun suka ngupil, ngorok, ketawa ngakak, jorok, atau ternyata tak terampil mengelola rumah tangga, yang penting Suku Sate. Begitu mungkin ya?

    Saya, Si Pendengar cerita, juga ikut heran. Momo adalah lulusan dari sekolahan yang baik. Sekolahan dengan lingkungan multikultural, yang mahasiswanya dari Sabang hingga Merauke, bahkan lintas batas nusantara. Namun, mengapa paradigma macam punya Momo ini masih menahun? Keheranan kedua saya berlandas pada cerita Mimi kalau si Momo ini anak masjid. Islam, sepengetahuan saya, mengajarkan kesetaraan manusia. Semua orang bisa masuk surga atau neraka. Mau Aceh, Jawa, Padang, Batak, Lombok, Papua, Dayak, Madura, Hoakkio, Eropah, Aria, semua boleh pilih. Lagipun, seingat saya di semester awal kuliah kami semua akrab dengan ayat Al Qur’an yang mengandung makna “Di mata Allah semua sama, yang beda hanya takwa”.

    Lalu? Mengapa pengejawantahan dalam realitas seorang what-so-called anak masjid begini rupa? Kenapa ia tak ikuti sifat Tuhannya? Jika pun alasan Momo adalah takut menyakiti ayah bunda, lantas bagaimana peran dakwahnya mencerahkan keluarga selama ini? Padahal secara an sich (hahaha berlebihan) Momo sudah dapat predikat anak masjid sejak SMA. Andainya bisa saya nukilkan kata-kata Mario Teguh untuk disampaikan pada Momo..”Seringkali kita dibuat takut oleh sesuatu yang belum tentu akan terjadi”.

    Alasan Momo menginginkan perempuan dengan gelar keperawatan juga membikin saya tak habis pikir. Ia tak ingin merasa khawatir akan pertumbuhan anak-anaknya. Dan jika anggota keluarga sakit, ia bisa mengandalkan sang perawat untuk mengatasinya. Bah, dia anggap apoteker tak bisa mengatasi?? Mendengar penjelasan ini dari mulut Mimi yang mengerucut, saya terkekeh miris. Momo ini terlalu menyederhanakan persoalan sepertinya. Apakah setiap guru TK dapat mendidik anaknya sebaik ia mendidik anak orang lain? Mendidik, merawat, menumbuhkan menurut saya tak identik sama seperti memasak, menjahit baju, atau memotong rambut.

    Betapa realitas memang tak seindah teori, terlebih mitos. Saya hanya bisa menghibur Mimi. Apa yang kita lihat tak selalu mencerminkan kandungan sejatinya. Inilah hidup. Tempat manusia bisa memilih, bahkan dengan alasan sekonyol apa pun.

    *juga dimuat di dalam laman Facebook saya


    Labels: Cerita, Sosial Budaya

     
    posted by Warastuti | Permalink | 6 comments
    Sunday, February 15, 2009,5:49 AM
    Ketakutan



    Hidupku dibayangi ketakutan
    Aku takut terlambat dewasa,
    terlambat menjadi bijak

    Takut hidupku tak seberapa bernilai,
    dibanding perjuangan, darah dan airmata
    mereka yang membesarkanku
    Aku takut tak seberapa mulia,
    dibanding harapan dan prasangka baik manusia

    Takut kalah,
    kalah banyak berbuat baik,
    kalah di tangan musuh,
    kalah tarung dengan nafsu sendiri

    Aku sungguh cemas,
    dihinakan dan diusir,
    dihalau pulang ke rumahku sendiri,
    Surga.


    Labels: Sajak

     
    posted by Warastuti | Permalink | 6 comments
    ,5:46 AM
    Ada Mendung di Jalan Damai


    Israel tetaplah Israel. Stigma ini sudah melekat di benak masyarakat sipil Palestina. Pemilu Israel pada kenyataannya tidak pernah menempatkan perdamaian sebagai motif utama. Negosiator ulung Palestina, Saeb Erekat, mengungkapkan pemerintah baru Israel, baik dalam komando Livni atau Netanyahu nantinya, tak kan mampu mengusahakan perdamaian di Palestina.

    "Terlepas dari koalisi apa pun yang dibentuk oleh perdana menteri baru, pemerintahan Israel tak akan mampu penuhi syarat-syarat perdamaian," ujar Erekat. Erekat menilai parlemen masih akan kental dengan warna konservatif.

    Seperti dikutip dari Harian Israel, Haaretz, opini masyarakat Palestina terhadap pemilu Israel cenderung negatif. Mushir al Masri, seorang anggota Hamas, mengatakan semua partai zionis sama saja. “Mereka hanya sisi wajah yang berbeda dari koin yang sama," ujarnya. Masri mengaitkan serangan sepanjang Januari kemarin dengan ketiga tokoh partai besar Israel, yakni Olmert, Livni, dan Barak.

    "Mereka menantang kami dengan menggunakan badan anak-anak kami, mereka terus mencari-cari peluang untuk menyerang orang-orang Palestina, menguasai wilayah, dan meningkatkan agresi dengan membantai orang-orang kami."

    Tak hanya warga Palestina, sebagian warga Israel pun tak kalah pesimisnya. Di Jenin, wilayah West Bank yang (masih) diduduki Israel, Muntasser Badameh, mengatakan ia telah kehilangan harapan. Pedagang berusia 32 tahun ini bercerita telah menghabiskan sepuluh tahun hidup untuk berharap adanya perjanjian perdamaian. Dengan situasi saat ini dan ekspansi wilayah terus-menerus, Badameh menyerah. Dalam dua tahun ini, jika tak ada perdamaian Badameh berencana meninggalkan negaranya.

    Muna Abed Rrabbo (43 tahun), pedagang di Ramallah, menuturkan pendapatnya secara lebih analitis.

    "Saya sangat tertarik dengan pemilu ini karena rakyat Palestina akan terpengaruh oleh hasilnya dan dengan kebijakan pemerintahan baru."

    Dirinya menganalisis pemerintahan yang makin condong ke sayap kanan akan berefek memperbesar tekanan pada saudara sebangsanya. Ia menduga-duga akan lebih banyak perbatasan ditutup dan intensitas kekerasan meningkat.

    Menguatnya kecondongan warna sayap kanan juga ditakutkan sebagian warga Israel, yakni minoritas Arab Israel. Meski secara legal diakui sebagai warga Israel, mereka menerima diskriminasi dalam setiap jengkal kehidupan. Kemiskinan dalam komunitas Arab Israel hampir dua kali lipat lebih tinggi jumlahnya dibanding dalam komunitas Yahudi. Kemenangan sayap kanan akan mengukuhkan diskriminasi.

    Peta koalisi dan upaya perdamaian

    Menanggapi kemungkinan memanasnya keadaan, Erekat, yang juga termasuk salah satu skuad Fatah, menegaskan jika perluasan wilayah dan pematokan batas-batas terus dilakukan Israel, maka itikad perdamaian akan gugur. Selasa lalu (10/02), Pemerintah Otoritas Palestina yang didominasi Fatah menegaskan pada dasarnya Pemerintah Palestina membuka diri terhadap pihak mana pun yang berkomitmen pada perdamaian.

    Hasil pemilu Israel bak mendung bagi masa depan perdamaian Palestina. Tzipi Livni unggul tipis dari rivalnya Bejamin Netanyahu dari Partai Likud. Dengan perbedaan tipis perolehan kursi, para analis memprediksi Knesset masih akan didominasi oleh Likud. Terlebih, seperti dilansir oleh Reuters, secara teoretis Presiden Israel, Simon Peres, memiliki hak untuk menunjuk langsung pihak yang dipercaya untuk memerintah. Pada praktiknya, Peres tak punya alasan untuk tidak menominasikan Netanyahu, pemimpin partai terbesar di Israel saat ini.

    Pengamat politik timur tengah dari Universitas Gadjah Mada, Siti Muti'ah Setiawati, pesimis kemenangan Kadima akan membawa angin segar perdamaian. Semestinya memang, menurut Siti, partai yang lahir dari sempalan Likud ini punya formula kebijakan yang lebih moderat. Namun Siti mengingatkan perubahan karakter partai juga dapat terjadi secara drastis, sebagaimana yang pernah terjadi pada Partai Buruh di tahun 1980-an. "Dulu Buruh lebih keras dari Likud, namun kemudian ada perubahan konstelasi pengikut," papar Siti seusai mengajar, Rabu siang (11/02).

    Dengan hasil pemilu ini, para pengamat memperkirakan langkah Obama mengupayakan perdamaian di Palestina kian berat. Sebab, meski Livni unggul dan tampak lebih diminati Washington, namun dominasi Likud di Knesset masih akan menyulitkan langkah Livni. Terlebih sejauh ini Livni pro terhadap penghentian kekerasan di Gaza. Pengamat menilai kemampuan Obama untuk mempengaruhi Israel, baik di bawah Livni maupun Netanyahu nantinya, akan bergantung pada proporsi dalam koalisi.

    Sebaliknya, Siti justru optimis terhadap Obama. Menurutnya Obama punya peluang membuat langkah maju bagi perdamaian Palestina-Israel. Penempatan Hillary Clinton dinilai Siti tepat. Hillary merupakan saksi hidup rangkaian perundingan Palestina-Israel, dari Oslo hingga Way River, semasa suaminya menjabat sebagai Presiden AS. Dan tentunya ia menjadi saksi kemarahan sang suami melihat sikap khianat Netanyahu terhadap isi kesepakatan.

    Di sisi lain, fenomena peningkatan popularitas partai ultrakonservatif Yisrael Beitenu, yang dipimpin Avigdor Lieberman, menerbitkan kekhawatiran sebagian petinggi pemerintahan Palestina. Kedudukan Lieberman di posisi ketiga diprediksi memainkan peranan penting dalam langkah politik Israel ke depannya. Dalam analisisnya Reuters menengarai Lieberman berpotensi memperburuk kondisi koalisi yang rapuh.

    Menurut Siti, sepanjang sejarahnya Israel selalu menghargai pihak yang menang, meski tidak menang mutlak. Tetapi ia sependapat bahwa posisi Lieberman di tempat ketiga dapat menjadi ancaman bagi pemerintahan. "Jika garis keras tidak segera diakomodasi Kadima, tragedi Hebron bisa berulang," kata Siti.

    Sementara itu kalangan cendikiawan Palestina justru meyakini Hamas lebih antusias pada kemenangan partai sayap kanan. Dengan begitu, mereka berkesempatan membuat capaian yang substantif.

    Bersamaan dengan waktu pemungutan suara di Israel Selasa kemarin (10/02), empat delegasi Hamas melakukan perundingan di Mesir. Pemerintah Mesir mencoba memperantarai perundingan tak langsung antara Hamas dan negosiator Israel memperpanjang gencatan senjata. Mesir mencoba membujuk Hamas untuk menyetujui kesepakatan mengakhiri penyelundupan senjata ke Gaza, sedangkan Hamas menuntut pembukaan perbatasan Gaza. Banyak pihak menilai perkembangan konflik di jalur Gaza akan bergantung pada keadaan pascapemilu Israel. Namun bagi rakyat Palestina, Israel tetaplah Israel. Hanya modus penindasannya saja yang mungkin berbeda, dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain.


    Labels: Politik

     
    posted by Warastuti | Permalink | 1 comments